Kebahagiaan Hidup (Tinjauan Filsafat Yunani dan Hindu)

TUJUAN Kehidupan MANUSIA:
(Tinjauan Filsafat Kebahagiaan Menurut Epikuros Dan Catur Purusaartha )

Oleh:
Untung Suhardi




Abstract
This paper uses a descriptive reasoning using the fenomenalogis approach. The core things that want to delivered through this writing is to understand the perspective of thought from Greece who in this occasion featured prominent acquainted with happiness and Epicurus Hindus about four objectives of human life embodied in catur purusaartha.The essential problem of the discussion of this is human beings have unlimited desires which demands everything catered for including using a variety of means to the unfulfilled desires. The results from this paper brings the understanding that happiness is born and bhatin to reach moksatam jagadita Ya ca iti dharma. Human understanding carried by Epicurus and understand  thinking caturPurusha arta to be used as a guideline in this life to achieve happiness in the happiness of either skala or niskala.
Keywords: Epikuros, caturpurusaartha, happiness and the purpose of life
A.     Pendahuluan
Kehidupan manusia selalu diwarnai dengan segala kebutuhan baik itu kebutuhan dasar maupun kebutuhan sampingan yang dalam istilah ekonomi adalah kebutuhan primer dan sekunder. Pada kehidupan ini manusia selalu dibenturkan yang harus dipenuhinya mengingat bahwa segala keinginan manusia yang banyak maka manusia dikatakan sebagai makhluk yang tidak pernah terpuaskan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Meminjam istilah ekomomi adalah makhluk dengan keinginan tidak terbatas, untuk  itulah perlu adanya pemahaman yang seimbang antara faktor pemenuh kebutuhan dengan kebutuhan itu sendiri agar skala prioritas bisa terpenuhi dengan baik. Selain kebutuhan, manusia juga dihadapkan dengan kenyataan hidup yang tidak seindah yang telah direncanakan seperti, kematian, penyakit, kesulitan hidup, pelaksanaan ritual yang berlebih serta hal lainnya.
Perkembangan ini dikaitkan dengan permasalahan yang ada dengan kehidupan ini yang menjalankan kehadiran pemenuhan kebutuhan. Disamping itu bahwamanusia sekarang lebih mengutamakan harta yang dalam cara mendapatkannya harus didasarkan pada dharma. Namun, dengan perkembangan tekhnologi yang sangat pesat orang sering menyalahartikan bahwa kebutuhan  yang paling penting adalah kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisik. Dalam hal ini ditambahkan oleh pemikiran Abraham Maslow[1] bahwa Kebutuhan inilah yang dalam kehidupan manusia ini mengalami dinamika yang terus bergolak. Pada setiap perkembangan manusia pasti selalu dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan keluarganya, sehingga banyak diliputi tentang adanya ambisi yang ada kalanya menimbulkan keinginan yang berlebihan serta sering menyepelekan orang lain. Oleh karena itulah, manusia diharapakn mampu untuk memahami kenyataan agar mampu mengembangkan kenyataan dan kemampuannya[2]. Untuk itu kemampuan yang  diusahakan akan mendorong seseorang untuk mengusahakan tentang hal yang menjadi keinginannya.
Melanjutkan dari pembahasan ini bahwa hierarki Maslow (Pintrich, 2002) menunjukan susunan kebutuhan manusia yang berawal dari dasar sampai dengan kebutuhan tertinggi[3]. Abraham Maslow menambahkan pemikirannya bahwa semua kebutuhan itu akan bisa dipenuhi ketika manusia mempunyai motivasi untuk mempertahankan hidup dan ingin maju dalam kehidupan. Pada awal kehidupan bahwa manusia mempunyai kebutuhan dasar untuk fisiknya seperti, makan, minum, kebutuhan seks. Kemudian ketika berkembang lagi dengan kebutuhan rasa aman, kebutuhan rasa cinta dan rasa memiliki dan yang paling tinggi adalah kebutuhan aktualisasi diri yaitu bisa menunjukan keberadaan dirinya pada orang lain dan dalam hal ini manusia sudah memiliki rasa yang sangat erat dengan penghargaan yang diberikan oleh orang lain kepada kita atas segala hal yang dimiliki untuk menunjukan adanya skill yang kita miliki.
Melanjutkan pembahasan ini bahwa kebutuhan ternyata membawa manusia pada tangga kebahagiaan. Pada uraian ini saya membahas tentang pemikiran kebahagiaan menurut filsafat barat epikuros dan pemikiran Hindu yang dalam hal ini adalah pemikiran catur purusaartha. Pokok pemikiran epikuros mengusung pemikiran bahwa dalam hidup ini kita harus mempunyai dua tujuan yaitu menciptakan kebahagiaan dengan menciptakan hidup yang sederhana serta puas seadanya, kedua menggunakan pemikiran untuk menghilangkan ketakutan tentang hal-hal yang tidak perlu dan itu adalah hal yang pasti terjadi, seperti kematian, ancaman dewa-dewi[4]. Dalam hal ini dapat ditarik benang merah bahwa pemikiran Epikuros tentang kebahagiaan adalah kesenangan yang harus didapatkan adalah kesenangan atau kebahagiaan yang sederhana yang mencakup kebahagiaan secara lahir dan batin.
Selain, pemikiran yang telah dikemukakan oleh Epikuros yang telah ada pada 342 SM yang pokok pemikirannya telah ada pada masa itu dan pada saat ini juga masih menjadi acuan  pada abad milenium sekarang ini. dalam  hal ini penulis juga mencoba menghadirkan sosok pemikiran yang sangat familiar dengan tokoh Yunani tentang filsafat beliau adalah Aristoteles yang ada jauh sebelum Epikuros yaitu pada 384 SM[5]. Pada kesempatan ini saya menggali dari filsafat kebahagiaan menurut dua pemikira tersebut yang dalam hal ini titik tolak pemikiran Epikuros berawal pada kebahagiaan yang menitikberatkan pada kebahagiaan batin sedangkan kebahagiaan menurut Aristoteles adalah berujuang pada kebahagiaan yang mengembangkan akal budi dan kemampuan sosial dalam  kehidupan[6]. Mengkritisi hal ini saya sebagai penulis pada tulisan ini akan menggabungkan dengan filsafat pemikiran Hindu yaitu catur purusa artha yang lebih dahulu secara kronologi waktu lebih dulu yang menurut Tilaksastri kebudayaan  Veda itu ada sejak 15.000 SM[7]. Selain itu, saya menganggap bahwa filsafat pemikiran yang dibawa oleh Aristoteles telah dikembangkan oleh Epikuros karena pada esensi pemikirannya bahwa Epikuros membawa pokok bangunan filsafat tentang ketenangan batin yang dalam hal ini justru ada didalam diri manusia bukan ada diluar dari manusia itu sendiri. Jadi, pemikiran kebahagiaan Epikuros sangatlah jauh  lebih komplek dari pada pemikiran Aristoteles. Untuk itulah dalam kesempatan ini penulis membahas tentang filsafat pemikiran Epikuros.
Selanjutnya pada pemikiran Hindu tentang empat tujuan hidup manusia atau catur purusaartha sebagai landasan moral dalam kehidupan. Empat tujuan ini adalah dalam mendapatkan harta atau kebahagiaan harus dengan kebanaran (dharma), artha (harta), kama (keinginan) dan pembebasan (moksa)[8]. Pedoman inilah yang nantinya dijadikan bekal dalam kehidupan ini dalam memasuki tangga kehidupan mulai dari masa belajar, berumah tanggga, pensiunan dan mengasingkan dari kehidupan duniawi. Pada pelaksanaan kehidupan ini bekal yang paling besar untuk kehidupan setelahnya mampu dalam kehidupan ini adalah dharma (kebenaran) mengingat bahwa jaman yang penuh dengan persaingan menuntut kinerja dan daya saing  yang tinggi. Oleh karena itulah, bekal tentang ilmu agama sangat penting untuk diperdalam dan disebarluaskan di masyarakat. Keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan agama sangatlah penting karena keduanya saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Albert Einstein[9] mengatakan bahwa ilmu tanpa agama buta dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Keadaan ini menunjukan bahwa perkembangan IPTEK harus dibarengi dengan ilmu agama yang ada pada setiap individu.
Pembahasan ini penulis ketengahkan adalah karena menurut penulis sangat penting karena ada pengembangan wawasan yang tidak hanya terjadi dalam pemikiran Hindu saja. Akan tetapi, penulis mencoba membuat elaborasi antara pemikiran barat dan timur. Tentunya hal ini sangat perlu untuk dikembangkan yang dalam hal ini tidak hanya kita tahu dari dalam saja, tetap diluar tidak pernah kita ketahuinya. Jika pepatah mengatakan bahwa “bagaikan katak dalam tempurung”, oleh karena itulah mudah-mudahan melalui tulisan ini saya mengajak untuk menjadi pioner yang mampu menggerakan lokomotif Hindu yang saya kira untuk saat ini sudah banyak penumpangnya tetapi mesin penggeraknya sangat lemah. 
B.     Rumusan Masalah
Pada pembahasan ini saya akan membahas tentang pokok pemikiran kebahagiaan menurut catur purusa artha dan pemikiran epikuros adapun hal pokok yang akan dibahas pada tulisan ini adalah :
1.      Bagaimanakah tujuan hidup menurut epikuros ?
2.      Bagaimanakah tujuan hidup menurut catur purusaartha ?
3.      Bagaimanakah korelasi pemikiran epikuros dan catur purusaartha ?

C.      Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah :
1.      Untuk mengetahui tujuan hidup dalam pemikiran filsafat epikuros
2.      Untuk mengetahui tujuan kehidupan menurut catur purusa artha
3.      Untuk mengetahui hubungan pemikiran epkuros dan catur purusa artha dalam kehidupan.

D.     Manfaat Penulisan
Penulisan ini sebenarnya mempunyai arti yang sangat penting baik dalam segi teoritis maupun praktis. Tujuan teoritis adalah untuk menambah khasanah dalam pemikiran modern yang tidak hanya tahu didalam tetapi harus tahu secara menyeluruh. Tujuan praktis adalah untuk menambah pemahaman yang bersifat komprehensif untuk kehidupan baik masyarakat dan pendidikan yang penuh dengan dinamika. Sehingga tulisan ini memberikan andil dalam kehidupan yang tidak hanya tulisan saja tetapi jauh dari itu mampu untuk memberi pemahaman yang bersifat komplek tentang tujuan hidup dalam dunia yang bersifat sementara ini.
E.      Metoda Penulisan
Pada tulisan ini saya mencoba untuk menggali informasi dengan pendekatan kepustakaan yang diuraikan dengan deksriptif kualitatif yang dalam mendapatkan data kebanyakan bersumber dari data skunder yang berasal dari kitab suci dan artikel yang relevan. Dan data primernya menggunakan wawancara sambil lalu yang ditujukan pada informan yang berkompeten pada bidangnya, seperti cendikiawan, tokoh agama dan umat pada umumnya. Hal ini saya gunakan karena untuk khasanah keilmuan filsafat kebanyakan menggunakan kualitatif deskriptif yang didalamnya banyak mengungkkap kebenaran yang bersifat mengakar dan bersifat pengetahuan yang dibenarkan secara universal[10].

F.      Filsafat Kebahagiaan Menurut Epikuros
Meski lahir di pulau Aegean, Samos, Epikuros (341-271 SM) adalah anak dari seorang Athenian, dan ia juga adalah seorang warga Athenian, di mana wilayah ini lalu menjadi tempat bagi tumbuhnya aliran pemikirannya. Tetapi ketika di Samos, ia banyak belajar dengan para Platonis, Pamphilus, dan banyak sekali momen-momen filosofisnya yang merupakan reaksi terhadap Platonisme[11]. Epikuros menjalani kehidupan yang sangat keras dan menunjukkan keuletan serta ketabahan dalam menghadapi penyakit yang dideritanya. Ia juga seorang pribadi yang halus, luhur, sederhana, baik hati dan mempunyai paham persahabatannya yang mendalam. Epikuros juga dikenal sebagai penulis yang produktif, namun sayang, sedikit sekali tulisan-tulisannya yang dapat diselamatkan dan jauh dari fragmen-fragmen. Terdapat 3 surat dan maksim-maksim termasuk di dalam biografi Diogenes Laertius yang mengungkapkan pemikiran-pemikiran Epikuros[12].
Bangunan filsafat Epikuros dapat dilihat sebagai sistem yang utuh dan saling berkaitan yang mencakup: tujuan hidup manusia (kebahagiaan yang datang dari ketiadaan rasa sakit fisik dan gangguan pada pikiran, teori pengetahuan empiris (sensasi indrawi dan persepsi pada kenikmatan dan rasa sakit adalah kriteria mutlak),  deskripsi alam yang didasarkan pada materialisme atomistis, dan pandangan naturalistik tentang evolusi dari formasi dunia sampai timbul manusia dan masyarakatnya. Penting untuk diperhatikan bahwa keseluruhan struktur filsafat Epikuros dirancang jalin menjalin untuk mendukung tujuan etis prinsipilnya yakni kebahagiaan. Inti ajaran etika Epikuros adalah bahwa kebahagiaan hidup adalah kenikmatan, yang dipandang sebagai satu-satunya yang baik. Kenikmatan didefinisikan sebagai keadaan negatif yakni tiadanya rasa sakit dan kegelisahan hidup. Kenikmatan mencakup kenikmatan indrawi namun kenikmatan yang tertinggi adalah ketenangan jiwa.
Hal yang lain juga dijelaskan oleh Aristoteles yang menjelaskan kehidupan ini dengan harta, nama besar dan kenikmatan. Untuk mendapatkan harta dan nama besar menurut Aristoteles merupakan kebahagiaan yang bersifat sementara. Kemudian untuk kenikmatan berarti bisa mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya[13] dengan mendayagunakan akal budi dan mampu berinteraksi dengan lingkungan sosial[14]. Jadi, dalam kesempatan ini  pemikiran tentang kebahagiaan yang dibawa oleh filsuf besar Yunani yang dalam hal ini membawa pengaruh besar pada masa sekarang. Tanggapan yang bisa saya kemukakan disini adalah pemikiran Epikuros lebih menitik beratkan kepada kebahagiaan secara batin karena dianggap bisa memuaskan jiwa sebagai kebahagiaan yang tertinggi dan pemikiran Aristoteles lebih menitikberatkan kepada kebahagiaan secara akal budi dan sosial.

G.     Filsafat Kebahagiaan Menurut Catur Purusaartha
Cara pandang agama Hindu dalam melihat keanekaragaman didalamnya sangatlah fleksibel karena Hindu sangat terbuka dengan semua aliran  atau sekte dalam Hindu. Hal yang sama juga ketika Hindu menempatkan etika tentang tujuan hidup manusia di dunia ini. adapaun tujuan hidup yang sering kita dengar adalah slogan “Moksatam jagadhita ya ca iti dharma” yang berarti kebahagiaan secara jasmani dan kedamaian secara rohani. Jika dilihat secara etimologi bahwa kata catur purusa artha berarti empat tujuan hidup manusia[15]. Hal yang dimaksud adalah dharma, artha, kama dan moksa. Demikian juga dijelaskan dalam Brahma Purana, 228 :  45 bahwa dharmaarthakamamoksanam sariram sadhanam artinya : Tubuh adalah alat untuk mendapatkan dharma, artha, kama dan moksa[16].
Pembahasan tentang dharma bahwa Dharma sebagai dasar utama mempunyai pengertian yang sangat luas. Dharma dapat diartikan sebagai mematuhi semua ajaran-ajaran Agama terlihat dari pikiran, perkataan dan perbuatan sehari-hari. Dharma juga dapat diartikan sebagai memenuhi kewajiban sesuai dengan profesi atau pekerjaan dan tanggung jawab masing-masing. Misalnya dalam Manawa Dharmasastra Buku III (Tritiyo dhyayah) diatur tentang kewajiban seorang suami dan kewajiban seorang istri dalam membina rumah tangga, dimana antara lain dinyatakan bahwa seorang suami berkewajiban mencari nafkah bagi kehidupan keluarganya,sedangkan seorang istri berkewajib mengatur rumah tangga seperti merawat anak, suami, menyiapkan upacara, dll. Dalam kaitan implementasi profesi dan tanggungjawab (responsibility), sering digunakan istilah "swadharma"[17], sehingga swadharma setiap manusia berbeda-beda menurut tugas pokoknya. Misalnya swadharma seorang dokter adalah merawat pasien sebaik-baiknya agar sembuh, swadharma seorang cleaning service adalah menjaga kebersihan dan kerapian ruangan dan lainya. Jadi melaksanakan dharma itulah yang utama. Setelah melaksanakan dharma dengan baik maka Hyang Widhi akan melimpahkan berkatnya berupa Arta.
Dalam ajaran agama Hindu yang terdapat dalam Catur Parusanta dijelaskan bahwa tujuan dari kehidupan adalah bagaimana untuk menegakkan Dharma, setiap tindakan harus berdasarkan kebenaran tidak ada dharma yang lebih tinggi dari kebenaran. Dalam Bagawad Gita[18] disebutkan bahwa Dharma dan Kebenaran adalah nafas kehidupan. Krisna dalam wejangannya kepada Arjuna mengatakan bahwa dimana ada Dharma, disana ada Kebajikan dan Kesucian, dimana Kewajiban dan Kebenaran dipatuhi disana ada kemenangan. Orang yang melindungi dharma akan dilindungi oleh dharma maka selalu tempuhlah kehidupan yang suci dan terhormat. Dalam zaman edan[19] saat ini semua orang mengabaikan kebenaran, orang sudah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, krisis moral sudah merajalela dimana-mana, kebenaran dan keadilan sudah langka, orang sudah tidak mengenal budaya malu, semua perbuatannya dianggap sudah benar dan normal.
Sebenarnya Dharma tidak pernah berubah, Dharma telah ada pada zaman dahulu, zaman sekarang dan zaman yang akan datang, ada sepanjang zaman tetapi setiap zaman mempunyai karateristik lain dalam melakukan latihan kerohanian (spiritual)[20]. Untuk Kerta Yuga latihan kerohanian yang baik adalah melakukan Meditasi, untuk Treta Yuga latihan kerohanian yang baik adalah dengan melakukan Yadnya atau kurban, untuk Dwapara latihan kerohanian yang baik adalah dengan melakukan Yoga yaitu upacara pemujaan dan untuk Kali Yuga latihan kerohanian yang baik adalah dengan melakukan Nama Smarana yaitu mengulang ngulang atau menyebut nama Tuhan yang suci. Adapun penjelasan dari masing-masing bagian caturpurusaartha dijelaskan pada uraian selanjutnya.
Arta adalah sesuatu yang bernilai materiil yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia secara phisik. Arta dapat diperoleh secara langsung maupun tidak langsung. Arta yang diperoleh secara langsung misalnya seseorang yang swadharmanya sebagai petani pemelihara lembu maka ia akan menikmati susu lembu itu. Arta yang diperoleh secara tidak langsung misalnya seorang Ayah yang tekun mendidik anaknya sejak kecil dengan baik sehingga dikemudian hari anaknya menjadi tokoh yang kaya dan terhormat, maka anaknya dapat merawat khidupan ayahnya dimasa tua dengan baik dan berkecukupan. Arta yang cukup dapat digunakan untuk memenuhi Kama.
Kama artinya kebutuhan hidup berupa pangan, sandang, perumahan, sosial, spiritual, kesehatan, dan pendidikan. Makin banyak arta yang diperoleh maka manusia makin leluasa memenuhi kama. Apabila dharma, arta dan kama sudah dicukupi dengan baik maka tercapailah kehidupan yang bahagia lahir dan bathin yang lazim disebut sebagai "Moksartham Jagadhitaya caiti dharmah" Pakar psycholog barat seperti Sperman dan Reven (1939) menamakan kehidupan seperti itu "Living Healthy" dimana unsur-unsur : Spiritual, Emotional, Intelektual, Phisical dan Social, dipelihara dan terpenuhi dengan baik. Bagaimanakah jika urut-urutan Catur Purushaarta itu ditukar balik, misalnya mendahulukan arta dari dharma ? Dalam keadaan ini manusia akan menempuhsegala cara untuk memperoleh arta, artinya tidak lagi berdasarkan ajaran Agama. Misalnya memperoleh harta dengan cara mencuri, menipu, merampok, korupsi, dll. Arta yang diperoleh dengan cara ini (adharma) tidak akan kekal dan akan menyengsarakan hidup dikemudian hari. Kesengsaraan itu bermacam-macam berbentuk "skala" dan "niskala" Yang berbentuk skala misalnya seorang perampok yang tertangkap akhirnya masuk penjara. Kesengsaraan niskala, misalnya seorang koruptor karena kepandaiannya berkomplot dan berkuasa, mungkin saja ia terhindar dari hukuman duniawi, tetapi kelak roh-nya akan mengalami penderitaan karena menerima hukuman Tuhan (Hyang Widhi), atau paling tidak bathinnya tidak tenang, karena merasa berdosa.
Moksa berasal dari bahasa sansekreta dari akar kata "MUC" yang artinya bebas atau membebaskan. Moksa dapat juga disebut dengan Mukti artinya mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagian rohani yang langgeng. Jagaditha dapat juga disebut dengan Bukti artinya membina kebahagiaan, kemakmuran kehidupan masyarakat dan negara. Jadi Moksa adalah suatu kepercayaan adanya kebebasan yaitu bersatunya antara atman dengan brahman. Kalau orang sudah mengalami moksa dia akan bebas dari ikatan keduniawian, bebas dari hukum karma dan bebas dari penjelmaan kembali (reinkarnasi) dan akan mengalami Sat, Cit, Ananda (kebenaran, kesadaran, kebahagian).
Dalam kehidupan kita saat ini juga dapat untuk mencapai moksa yang disebut dengan Jiwan Mukti (Moksa semasih hidup), bukan berarti moksa hanya dapat dicapai dan dirasakan setelah meninggal dunia, dalam kehidupan sekarangpun kita dapat merasakan moksa yaitu kebebesan asal persyaratan moksa dilakukan, jadi kita mencapai moksa tidak menunggu waktu sampai meninggal. Untuk memperoleh pengetahuan suci, dan menghayati Yang Widhi Wasa dalam keberagaman dinyatakan dalam doa Upanishad yang termasyur : Asatoma Satgamaya, Tamasoma Jyothir Gamaya, Mrityorma Amritan Gamaya yang artinya, Tuntunanlah kami dari yang palsu ke yang sejati, tuntunlah kami dari yang gelap ke yang terang, tuntunlah kami dari kematian ke kekekalan.
Setiap kita melakukan kegiatan, kita biasakan untuk memohon tuntunan kehadapan Yang Widhi Wasa agar kita selamat dan selalu dilindungi. Pekerjaan apapun kita lakukan, apabila kita bekerja demi Tuhan dan dipersembahkan kehadapan Yang Widhi Wasa, maka pekerjaan tersebut mempunyai nilai yang sangat tinggi. Dengan menghubungkan pekerjaan tersebut dengan Yang Widhi Wasa, maka ia menjadi suci dan mempunyai kemampuan dan nilai yang tinggi.
Tujuan dari kehidupan kita adalah agar atman terbebas dari triguna[21] dan menyatu dengan Para atman. Didalam Weda disebut yaitu Moksartham Jaga Dhitaya Ca Iti Dharmah yang artinya adalah tujuan agama (Dharma) kita adalah untuk mencapai moksa (moksa artham) dan kesejahteraan umat manusia (jagadhita). Adapun ciri-ciri orang yang telah mencapai jiwatman mukti adalah, selalu mendapat ketenangan lahir maupun bathin, tidak terpengaruh dengan suasana suka maupun duka, tidak terikat dengan keduniawian, tidak mementingkan diri sendiri dan selalu mementingkan orang lain (masyarakat banyak).
Untuk mencapai moksa juga mempunyai tingkatan tergantung dari karma (perbuatannya) selama hidupnya apakah sudah sesuai dengan ajaran-ajaran agama Hindu. Tingkatan seseorang yang telah mencapai moksa dapat dikatagorikan sebagai berikut.
1.      Apabila seorang yang sudah mencapai kebebasan rohani dengan meninggalkan mayat disebut Moksa.
2.      Apabila seorang yang sudah mencapai kebebasan rohani dengan tidak meninggalkan mayat tetapi meninggalkan bekas misalnya abu, tulang disebut Adi Moksa.
3.      Apabila seorang yang telah mencapi kebebasan rohani yang tidak meninggalkan mayat serta tidak membekas disebut Parana Moksa.
Menyimak dari urian diatas bahwa kebahagiaan yang dijelaskan dalam konsep catur purusa artha adalah kebagaiaan yang berdasarkan atas kebenaran (dharma).Kebahagiaan seseorang dalam kehidupan ini tidak hanya dinilai berdsarkan atas keberadaan finansial yang dia miliki tetapi jauh dari itu bahwa kebahagiaan seseorang terletak dalam melakukan pelayanan terhadap sesamanya. Selain itu, kebahagiaan dalam konsep ini menunjukan tentang kedamaian yang didapatkan ketika didapatkan dengan kebenaran, harta yang kita dapatkan berdasarkan kebenaran untuk kemudian harta itu dipergunakan untuk hal-hal yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain serta lingkungan sekitarnya.
Melanjutkan pembicaraan diatas bahwa kebenaran jika dilukiskan bersifat abstrak karena dalam hal ini sangat bergantung dengan ruang dan waktu serta kondisi pada suatu kejadian. Hal yang paling sederhana adalah jika ada orang yang ketahuan mencuri padahal hasil curiannya adalah untuk orang miskin yang tidak mampu. Kemudian ada orang yang ingin menangkapnya maka jika kita berbicara pada konteks kebenaran secara hukum positif hendaknya orang tersebut harus diberitahukan serta kemudian dipenjarakan. Akan tetapi, jika kebenaran itu dilihat secara konteks sosial bahwa orang tersebut mencuri adalah untuk memberi makan orang miskin maka kita harus melindunginya untuk kemudian harus diberikan nasehat bahwa mencuri adalah perbuatan dilarang oleh hukum dan larangan dari ajaran agama. Hal lain yang dicontohkan lagi adalah ketika terjadi perang antara Rama dengan Ravana. Pada cerita epos Ramayana[22] ini bahwa sesungguhnya tokoh Ravana pada pemikiran Rama adalah salah karena telah menculik Sita sebagai istri yang sah. Namun, ketika Ravana sebagai penguasa kerajaan Alengka bagi rakyatnya adalah raja yang bijaksana karena telah memberikan kesejahteraan dan kemakmuran kepada para rakyat dan pemerintahan Alengka.
Pemahaman  kebenaran yang dimaksudkan untuk mendapatkan kebahagiaan sebenarnya memerlukan pemikiran yang mengacu pada kebenaran umum yang tidak memihak pada kepentingan indvidu atau golongan. Oleh karena itu, kebenaran pada kontek dharma adalah kebenaran yang bertujuan kepada kesadaran untuk meyakini bahwa kebahagiaan yang tertinggi adalah sebagai pelayan Tuhan dan seluruh makhluk.
H.    Korelasi pemikiran kebahagiaan Epikuros dan Catur Purusaartha
Pemikiran yang dihadirkan dalam panggung filsafat tidak selalu membicarakan tentang hal yang bersifat abstrak. Namun, dengan kehadiran filsafat banyak hal yang harus kita gali kembali tentang hal-hal umum yang dikultuskan menjadi sebuah kebenaran karena sudah mentradisi pada suatu masyarakat tertentu. Hal ini juga berlaku pada pemahaman dalam filsafat timur dan filsafat barat, kebanyakan orang menilai bahwa filsafat barat hanya membahas hal-hal yang bersifat nyata dan sulit untuk menerima hal yang bersifat abstrak karena meyakini bahwa kebenaran itu harus bisa dibuktikan dengan sesuatu yang bersifat empiris. Ada juga orang yang mengatakan bahwa keberadaan filsafat barat sejak jaman dahulu sebebarnya sudah berkiblat ketimur, sehingga dalam rantai pemahamannya mempunyai saling keterkaitan satu dengan yang lain.
Keterkaitan ini menurut para pemikir filsafat Sir BE. Seal[23]bahwa untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif pemikiran barat dan timur disandingkan, namun untuk pendekatan yang digunakan berbeda dalam mengungkap pencarian filosofis tetapi umumnya pendekatan seperti metafisika, epistemologi, logika, etika dan aestitika tidak bisa dibicarakan secara terpisah akan tetapi keduanya saling melengkapi. Hal yang sama jika kita berbicara filsafat  timur dengan peradaban Veda dan filsafat barat yang berasal dari Yunani maupun Eropa. Pada dasarnya keduanya mempunyai hal yang hampir bersamaan tetapi dalam metoda penemuan kebenaran pemikiran barat lebih menitikberatkan pada logika atau rasionalitas dan pemikiran timur mengutamakan kebenaran intuisi yang berdasarkan atas pewahyuan dari Tuhan. Pada kesempatan ini penulis mencari titik temu dalam pemikiran barat yang dibawa oleh aliran pemikiran epikuros dan pemikiran timur yang didapatkan dalam konsep catur purusaartha yang keduanya membahas tentang filsafat kebahagiaan.
Pada pemikiraan Epikuros mengusung paham bahwa kebahagiaan yang terdalam adalah dengan melakukan penguasaan atas tubuh yang terdiri dari unsur material dan roh. Pemahaman filsafat yang dibawa oleh Epikuros bahwa “selama kita ada, kematian tidak ada, dan pada saat kematian ada, kita tak ada lagi. Oleh karena itu, kematian tidak menyangkut orang hidup dan tidak juga orang mati, karena di mana yang satu (yang hidup) ada, kematian tidak (belum) ada, sedangkan yang satunya (mereka yang telah mati) sama sekali tidak ada lagi”[24].Kondisi ini menunjukan bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti bagi makhluk yang hidup. Kematian yang pasti ini sebenarnya banyak orang yang mengalami kegelisahan karena mereka merasa terbatasi geraknya sebab kontrol atas dirinya tidak ada. Bangunan filsafat yang  dibawa oleh Epikuros memberitahu kepada kita semua bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan kita harus meyeimbangkan kesenangan secara jasmani dan rohani baru didapatkan kebahagiaan secara mendalam. Kekawatiran seseorang pada penyakit, kesulitan hidup, hukaman dari para dewa sebenarnya telah menghilangkan kebahagiaan secara rohani yang lebih mengarah  pada sikap mental seseorang. Untuk mencapai kebahagiaan itu seseorang mempunyai kehendak bebas, yang dimaksudkan disini adalah kebebasan yang membawa orang kepada kedamaian batin dengan selalu memberikan kebahagiaan secara spiritual. jadi kebahagiaan tertinggi dalam pemikiran Epikuros adalah kebahagiaan yang mendatangka kesenangan batin yang dianggap sebagai kebahagiaan yang nyata.
Selanjutnya dalam konsep catur purusaartha membawa pemikiran sejalan dengan alam filsafat Epikuros namun dalam catur purusaartha di bahas dengan hierarkie yang jelas yang tidka hanya berbicara kebahagiaan secara badan, roh dan duniawi. Akan tetapi, kebahagiaan yang didasarkan pada kebenaran yang bersifat universal (dharma) yang dalam segala situasi dan kondisi harus diusahakan. Hal ini dijelaskan pada kitab Sarasamuccaya[25] bahwa kebenaran (dharma) itulah yang akan melindungi seseorang ari segala marabahaya dan mendatangkan kesejahteraan dunia dan kedamaian mental. Pada tataran ini dia sudah mendapatkan bekal untuk behagia yaitu dengan kebenaran itu sendiri, setelah itu kemudian manusia harus  mengarahkan kehidupannya untuk bahagian secara harta (artha) dalam penggunaannya harta ada tiga macam yaitu untuk kepentingan dharma, harta itu sendiri dan kebutuhan hidup yang dalam hal mendapatkannya harus merdasarkan atas dharma. Setelah harta terpenuhi secara baik seseorang harus mengusahakan untuk kepentingan hidupanya seperti, kebutuhan diri sendiri, keluarga, rumah tangganya dan kebutuhan mendesak lainnya. Ketika ketiganya sudah  terpenuhi dengan baik seseorang akan mewujudkan kebahagiannya dengan memberikan pelayanan kepada semua makhluk sesuai dengan tempramen yang dimilikinya baik itu pengabdian, perbuatan, pengetahuan maupun dengan bermeditasi.
I.       Penutup
Menyimak urian diatas dapat disimpulkan bahwa pemikiran Epikuros lebih menitik beratkan kepada kebahagiaan secara batin karena dianggap bisa memuaskan jiwa sebagai kebahagiaan yang tertinggi dan pemikiran Aristoteles lebih menitikberatkan kepada kebahagiaan secara akal budi dan sosial. Untuk mencapai kebahagiaan itu seseorang mempunyai kehendak bebas, yang dimaksudkan disini adalah kebebasan yang membawa orang kepada kedamaian batin dengan selalu memberikan kebahagiaan secara spiritual. Alam pemikiran filsafat Epikuros ini dalam filsafat Yunani dianggap sebagai hedonisme karena mengutamakan kesenangan, namun kesenangan yang dimaksud adalah kesenangan antara badan dan raga.  jadi kebahagiaan tertinggi dalam pemikiran Epikuros adalah kebahagiaan yang mendatangka kesenangan batin yang dianggap sebagai kebahagiaan yang nyata bukan seperti kebahagiaan badan sebagai kesenangan semu.
Dalam ajaran agama Hindu yang terdapat dalam Catur Parusanta dijelaskan bahwa tujuan dari kehidupan adalah bagaimana untuk menegakkan Dharma, setiap tindakan harus berdasarkan kebenaran tidak ada dharma yang lebih tinggi dari kebenaran. Setelah dharma adalah artha atau pemenuhan harta benda, kama atau pemenuhan keinginan dan pencapaian kebahagian secara skala dan niskala (Moksa).
Konsep catur purusaartha membawa pemikiran sejalan dengan alam filsafat Epikuros namun dalam catur purusaartha di bahas dengan hierarkie yang jelas yang tidka hanya berbicara kebahagiaan secara badan, roh dan duniawi. Akan tetapi, kebahagiaan yang didasarkan pada kebenaran yang bersifat universal (dharma) yang dalam segala situasi dan kondisi harus diusahakan. Kebahagiaan akhir yang disimpulkan dalam bangunan filsafat Epikuros maupun pemikiran Catur purusartha adalah menuju kebahagiaan yang harmonis antara jiwa dan raga atau kebahagiaan secara utuh antara keinginan duniawi dan kebahagiaan secara spiritual dalam wujud kesenangan batin sebagai tujuan tertinggi.
Daftar Pustaka

Adiputra, Rudia dkk.2004. Dasar-dasar Agama Hindu. Jakarta : Ditjen Bimas Hindu
Edward Craig, Routledge Encyclopedia of Philosophy, London and New York, 1998, Vol.3
Kadjeng, Nyoman dkk. 2000. Sarasamuccaya (Teks bahasa jawa kuno, sansekerta dan bahasa Indonesia. Paramita : Surabaya.
Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi. Jakarta : UI Press
Kuntowijoyo, 2006. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta : Tiara wacana Yogya.
Makalah Romo Magnis Suseso yang merupakan guru besar STF Driarkara, di Teater Salihara pada 2 Februari 2013.
Mantra, IB. 1997. Tata Susila Hindu Dharma. Denpasar : upada sastra, Surabaya : Paramitha.
Maswinara, I Wayan. 2006. Sistem Filsafat Hindu. Surabaya : Paramita
 Santrock, John W. 2008. Psikologi Pendidikan Edisi kedua. Jakarta : Kencana.
Soetriono dan SRDm Rita Hanafie.2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta ; Andi.
Suasthi dan Suastawa. 2008. Psikologi Agama (Seimbang, Pikiran, Jiwa Dan Raga. Widhya Dharma : Denpasar.
Subramanyam, Kamala.2000. Ramayana. Surabaya : Paramita
Suseno, Frans Magnis. 1997. 13 Tokoh etika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19. Yogyakarta : Kanisius.
Titib, Made. 2007. Veda sabda Suci. Surabaya : Paramitha.
Weij, Van Der. 2000. Filsuf-filsuf Besar Tentang Manusia. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Wiana, I Ketut. 1995. Yadnya dan Bhakti dari Sudut Pandang Hindu. Jakarta : Wisma Karma.
Wijaya, Khrisnanda Mukti. 2003. Wacana Budha Dharma Cet. 2. Jakarta : Yayasan Dharma pembangunan.



BIOGRAFI SINGKAT


Untung Suhardi, S.Pd.H.,M.Fil.H

Untung Suhardi, lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 25 Mei 1988 yang berasal dari keluarga sederhana. Tamat SDN 01 Kutorojo, Pekalongan (2001) kemudian meneruskan SMPN 1 Kajen, Pekalongan (2004), selanjutnya meneruskan ke SMKN 1 Slawi, Tegal (2007) dan melanjutkan studinya ke STAH DN Jakarta (2011) dengan jurusan pendidikan dan keguruan dan melanjutkan Magisternya di IHDN Denpasar (2013)  jurusan filsafat Hindu.
Saat ini mengajar di STAH DN Jakarta (2011-sekarang) dan beberapa sekolah di DKI Jakarta. Selain itu, sebagai sekretaris Prajaniti PHDI DKI Jakarta  (2013 – sekarang), Staf Perpustakaan STAH DN Jakarta sebagai Kabag. Pengadaan (2012-sekarang) dan staf LPM STAH DN Jakarta (2012-sekarang). Untuk memudahkan komunikasi dengan penulis, pembaca bisa mengakses lewat email usuhardi@gmail.com.

Om Awighnamastu namah sidham.  

Jakarta, 25 Mei 2014  


[1]Suasthi dan Suastawa. 2008. Psikologi Agama (Seimbang, Pikiran, Jiwa Dan Raga. Widhya Dharma : Denpasar. Hal : 97-98.
[2]Ibid. Hal : 97
[3]John W. Santrock. 2008. Psikologi Pendidikan Edisi kedua. Jakarta : Kencana. Hal : 512.
[4] Makalah Romo Magnis Suseso yang merupakan guru besar STF Driarkara, di Teater Salihara pada 2 Februari 2013.
[5] Ibid
[6]Frans Magnis-Suseno. 1997. 13 Tokoh etika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19. Yogyakarta : Kanisius. Hal : 45.
[7] Mada Titib. 2007. Veda sabda Suci. Surabaya : Paramitha. Hal : 8
[8] Rudia Adiputra dkk.2004. Dasar-dasar Agama Hindu. Jakarta : Ditjen Bimas Hindu.  Hal : 86
[9] Bansi Pandit (Terjemah : IGA. Dewi Paramita). 2007. Pokok Pemikiran Hindu (Pokok filsafat Hindu). Surabaya : Paramita. Hal : 135
[10]Soetriono dan SRDm Rita Hanafie.2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta ; Andi. Hal 59. Pada pembahasan ini banyak mengupas tentang permsalahan filsafat yang menggunakan hal yang ada, pengetahuan, metoda, penyimpulan, moralitas dan keindahan.
[11]Edward Craig, Routledge Encyclopedia of Philosophy, London and New York, 1998, Vol.3, h.340.
[12] Ibid, hal .340
[13]Makalah Romo Magnis Suseso yang merupakan guru besar STF Driarkara, di Teater Salihara pada 2 Februari 2013.
[14]Frans Magnis-Suseno. 1997. 13 Tokoh etika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19. Yogyakarta : Kanisius. Hal : 47.
[15]Rudia Adiputra dkk.2004. Dasar-dasar Agama Hindu. Jakarta : Ditjen Bimas Hindu.  Hal : 113
[16]Ibid, hal 114
[17]Swadharma diartikan sebagai melakukan pekerjaan sesuai dengan  keahlian dan bakat yang kita miliki untuk kesejahteraan lahir dan batin (Leksikon Hindu, 2010).
[18]Prabhupada, 2000. Bhagavadgita Menurut Aslinya. Denpasar : Hanuman Sakti. Hal : 222. Penjelasan ini ada pada Bhagavadgita 4.7 yang  menegaskan bahwa Tuhan sendiri dalam manifestasinya dewa Wisnu akan turun kedunia untuk menyelamatkan kebenaran ketika kebenaran itu sudah mulai merosot.
[19]Pada serat Joyoboyo dikatakan bahwa sekarang ini kita sudah memasuki jaman gila (edan) yang didalamnya banyak segala rintangan dan ambisi duniawi yang merebak dari segala kalangan, tetapi peringatan dari serat tersebut adalah yang terpenting dalam hidup ini adalah kita selalu ingat dan waspada kepada segala situasi dan kondisi.
[20] Pembagian jaman yang ada dalam Hindu terdiri dari jaman Satya, Krta, dwapara dan kaliyuga. Dan sekarang sekarang ini kita sedang berada pada jaman Kaliyuga yang berumur 432.000 dan saat ini kita baru memasuki awal dari kaliyuga sekitar 5000 tahun yang lalu dan ditandai dengan naik tahta raja Parikesit menjadi maharaja di Hastinapura. Sedangkan untuk melakukan bhaktinya ditunjukan dengan Satya yuga melakukan tapa, Treta Yuga melakukan jnana, jaman Dwapara yuga melakukan yajna dan jaman kaliyuga adalah melakukan danapunia dan mengulang nama suci Tuhan.
[21] Triguna terdiri dari Satwam (kesucian), rajas (bernafsu) dan tamas (kebodohan) lihat Rudia Adiputra (2000). Ketiganya ini akan membawa pada jembatan reinkarnasi yang pada akhirnya dia akan dilahirkan kembali secara berulang-ulang. Walapaun satyam akan membawa pahala yaitu untuk menikmati hasilnya sehingga menuntut orang untuk menikmatinya dalam bentuk sancita karmaphala.
[22] Kamala Subramanyam.2000. Ramayana. Surabaya : Paramita. Hal : vii
[23] I Wayan Maswinara. 2006. Sistem Filsafat Hindu. Surabaya : Paramita. Hal : 3-4
[24]Frans Magnis Suseno. 1998. 13 Model Pendekatan  Etika, Kanisius, Yogyakarta, hal. 58.
[25] Nyoman Kadjeng dkk. 2000. Sarasamuccaya (Teks bahasa jawa kuno, sansekerta dan bahasa Indonesia. Paramita : Surabaya.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Kebahagiaan Hidup (Tinjauan Filsafat Yunani dan Hindu) "