Dinamika Zaman

 

MODERASI BERAGAMA DALAM TANTANGAN DINAMIKA ZAMAN    

Oleh:  

Untung Suhardi     

 

 

Pendahuluan

Kehidupan globalisasi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang terus  berkembang dengan pesatnya. Mampu melahirkan dampak yang positif dan juga dampak yang negatif yang akan berpengaruh pada pola pikir dan tatanan kehidupan manusia baik secara individu maupun dalam kehidupan sosial masyarakat (Sudarma, et.al, 2019). Dan ketika kita tidak mampu membuat filter dalam diri masing-masing maka, akan terjerumus dalam hal-hal yang negatif. Hal  ini tidak hanya dialami oleh bangsa  indonesia saja akan tetapi, dialami oleh seluruh bangsa-bangsa di dunia. Dalam kehidupan sekarang ini banyak terjadi, peperangan atas nama agama atau golongan tertentu, adanya tindakan diskriminasi, bencana alam serta adanya kejadian-kejadian lainnya yang selalu menghiasi media cetak dan media elektronik sekarang ini. Kondisi ini tentunya sangat berbeda dengan zaman dahulu yang masih bersifat tradisional yang selalu mengutamakan nilai-nilai etika dan kebersamaan. Akan tetapi, seiring dengan perjalanan waktu yang terus berubah dan menurut ajaran Hindu zaman ini adalah zaman Kaliyuga yang selalu diidentikan dengan harta dan kekuasaan yang didapatkan dengan segala cara yang sering menyimpang dari ajaran dharma, sehingga hal yang nampak adalah seseorang yang mempunyai kecerdasan intelektual yang tinggi akan tetapi, kurangnya kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional dalam kehidupan manusia sekarang ini.

 

Moderasi Beragama dan Perubahan Zaman

Moderasi beragama penting karena berkaitan dengan adanya mengikuti perubahan, bahwa kehidupan beragama harus berkaitan dengan dharma sidyarta sebagai Suksenya pengalaman Dharma untuk mewujudkan cita-cita hidup bersama yang disebut Menawa Dharma Sastra VII,10. Lima dasar pertimvang tersebut adalah: Iksa artinya tujuan atau cita-cita, Sakti artinya kemampuan, Desa artinya wilayah, Kala artinya waktu, tattwa artinya hakekat kebenaran. Dengan iksa adanya tujuan, sakti aspek material yang tidak memaksakan ajaran kepada umat yang terus kerkembang atau belum menjangku umat, desa yang merupakan kearifan lokal yang ada supaya ikut memiliki, kala  atau era yang jaman dahulu yang dilakukan kerja dan sekarang harus dilakukan dengan dunia pendidikan dengan adanya literasi yang menuntut pengetahuan dan tattwa yang berkaitan dengan nilai filosofis yang berlaku dalam kehidupan dan mengikuti perubahan jaman dan adanya  hukum  alam yang harus kita mengikuti jaman sesuai dengan perputaran roda  dunia. Sehingga lakukan penyesuaian bukan beragama secara modern melainkan adanya adaptasi dengan dengan lingkungan, sehingga dari dulu pun seseorang memberikan pemahaman tentang desa, kala, dan patra, sehingga penyuluh ini adalah pemimpin yang harus mengarahkan, menggerakan orang lain dan membawa perubahan yang lebih baik.  Keadaan ini seharusnya kita mempersiapkan diri, agar bisa terjalin sesuai Hubungan kasih sayang, yang tidak memiliki hubungan tali jasmani, inilah yang disebut sebagai Cinta Tanpa Syarat. ini tercermin apabila kita mampu melihat Atma kita dan dapat merasakan Atma di orang lain, maka cinta kasih akan muncul, disinilah Yadnya Sevanam dapat Membangun Rasa Bersaudara yang kita harapkan di masa Pandemi Covid-19 ini. 


Keberadaan Hindu saat ini yang dibutuhkan adalah kemajuan sumber daya manusia terutama dengan meningkatkan kemampuannya dalam segala bidang. Mengingat bahwa bangsa yang besar dalam peradaban manusia baik di Asia dan Eropa hal yang utama dilakukan adalah mengembangkan sumber daya manusianya. Hal ini seperti halnya negara Cina yang mempunyai peradaban besar dengan memiliki tembok besar cina, yang pada abad pertengahan terjadi berbagai macam pemberontakan, karena adanya mental sumber daya manusia yang lemah masih menerima suap, korupsi, kolusi dan lain sebagainya. Indonesia sebenarnya jauh lebih maju dalam peradaban manusianya terbukti dengan banyaknya peninggalan sejarah sebagai wujud keagungan nenek moyang kita jaman dulu.

 

Relasi Keberagaman dan Tujuan Kehidupan Manusia

Untuk mendapatkan kedamaian Kesadaran yang dibawa dalam Doa, anjuran ke akan diwujudkan dalam perkataan untuk mengembangkan kedamaian, akan tetapi yang paling penting adalah Doa harus digabung dengan Pelaksanaannya dalam Kehidupan sehari-hari, inilah cara  untuk mewujudkan Kedamaian, Kedamaian Dunia harus diawali dengan Kedamaian Bathin. Seperti dijelaskan dalam Bhagavad-Gita 12:13 bahwa :

 

Advesta sarva bhutanam, maitrah karuna eva ca

Nirmamo nirahamkara, sama dukha-sukha ksami

Terjemahan :

Dia yang tidak membenci segala makhluk, bersahabat dan cinta kasih, Bebas dari keakuanan dan keangkuhan, sama dalam suka dan duka, pemberi maaf (Pudja, 2010).

 

Dengan menyadari  bahwa sifat dasar kita berasal dari sumber yang sama, yaitu Brahman dengan demikian jiwa-jiwa yang ada pada setiap makhluk adalah bagian dari Brahman, maka hendaklah kita selalu menerapkan sifat-sifat itu dalam kehidupan ini karena kita mempunyai hubungan langsung dengan unsur-unsur di alam semesta ini ; tanah, air, api, udara dan angkasa. Dalam ajaran Hindu mengenal adanya Tat Twam Asi yang mengandung pengertian bahwa aku adalah engkau dan engkau adalah aku, dan menyakiti makhluk hidup lain pada dasarnya adalah menyakiti diri sendiri dan juga sebaliknya. Dari kesadaran inilah akan mencapai kebahagiaan dan keharmonisan karena, mengetahui bahwa sesungguhnya diri kita, orang lain serta makhluk hidup lainnya adalah bersaudara (Vasudaiva Kutumbhakam). Karena sebenarnya kita saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, bagaikan satu rumah dengan satu atap dengan sifat dan tempramen yang berbeda, tetapi satu. Hal ini juga dijelaskan dalam Atharwa Veda III. 30. 1 yang dijelaskan bahwa:

 

Sahrdayam sam manasyam avidvesam krnomi vah,

Anyo anyam abhi haryata vatsam jatam ivagh-nya

Terjemahan :

Wahai umat manusia, Aku memberimu sifat ketulus ikhlasan, mentalitas yang sama, persahabatan tanpa kebencian, seperti halnya induk sapi mencintai anaknya yang baru lahir, begitu seharusnya kamu mencintai sesamamu (Griffith, 2005).

 

Kehidupan dalam bingkai kerukunan yang ada dalam agama Hindu jelas dalam tatanan yang berbhineka tunggal ika. Konsep yang ada tat twam asi, vasudaidewa kutumbhakam, tri hita karana dan serangkaian konsep yang lain hanya sebatas konsep dengan deretan kata-kata indah, namun harus  dijalankan dalam kehidupan. Penerapan nilai-nilai kerukunan yang ada dalam kehidupan ini harus segera dipupuk sejak dini bahwa indonesia adalah negara pancasila. Didalam Padma Purana dijelaskan bahwa ada 8,4 juta jenis kehidupan dan 400 ribu adalah jenis manusia yang mempunyai kesadaran kuncup, mekar dan mekar sempurna, sehingga kesadaran manusia ini mempunyai potensi yang sama untuk mengembangkannya sampai dengan tidak terbatas untuk mengetahui kebenaran pengetahuan kerohanian. Itulah sebabnya bentuk kehidupan manusia adalah berntuk tertinggi untuk mengenal kehidupan materi dan spiritual (Purnandina, 2020).

 


Penutup

Cinta kasih dan kasih sayang mempunyai makna yang universal, yaitu tidak hanya dilakukan kepada sesama manusia, tetapi kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Dengan demikian untuk menumbuhkan cinta kasih dan kasih sayang dimulai dari individu masing-masing dengan cara menaklukan nafsu, amarah, serakah, irihati, kebingungan dan kemabukan. Oleh karena itu marilah kita coba merenung sejenak, bertanya kepada diri sendiri, mengapa aku benci kepadanya, mengapa aku selalu dendam kepadanya, mengapa aku musuhi dia, kenapa aku dengki kepadanya, mengapa aku iri kepadanya, sambil merenung kita harus sadar bahwa diantara kita adalah saudara (vasudaiva kutumbhakam) dan diri kita dengan seluruh makhluk hidup lain adalah sama bahwa aku adalah engkau (Tat Twam Asi). Maka, Setiap timbul dalam pikiran kita benih-benih permusuhan selalu ingat yaitu Satya (kebenaran), Santy (kedamaian), Dharma (kebijakan), Ahimsa (tanpa kekerasan).  

Upaya pemahaman inilah yang dikembangkan dalam bentuk pembiasaan yang dilakukan oleh keluarga dengan hal yang positif mulai dari bersembahyang bersama, memberikan dana punia dan penanaman nilai kebiasaan yang baik dalam keluarga. Kemudian di sekolah diberikan penanaman nilai luhur yang ada dalam kehidupan seperti guru memberikan pembiasaan tentang karakter yang baik serta nilai-nilai luhur yang ditanamkan disekolah. Hal yang sama juga dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat tentang penanaman nilai tentang rasa kepedulian saling menghormati. Bentuk nyata yang dilakukan dalam hal inilah yang terkadang kita seraing terabaikan yang kemudian menghasilkan generasi yang rapuh.  Akan tetapi dengan melaksanakan tentang penanaman nilai moral yang baik dalam lingkup keluarga, sekolah, dan masyarakat akan menjadikan indvidu yang mampu untuk menghadapi tantangan jaman yang tidak hanya mampu mengangkat derajat dirinya namun dapat mengangkat derajat bangsa dan negaranya.

 

Referensi

 

Griffith, R. T. . (2005). Sāmaveda Saṁhitā (I). Surabaya: Paramita.

Koentjaraningrat. (2007). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta.

Penyusun, T. (2020). Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pudja, G. (2010). Bhagavadgita. Surabaya: Paramita.

Purnandina, I. P. Y. et. a. (2020). Beragama Dalam Damai. (I. K. Sudarsana, Ed.) (I). Denpasar: Jayapangus Press.

Sivananda, S. S. (2003). Intisari Ajaran Hindu (I). Surabaya: Paramita.

Sudarma, T. Fatimah Djaja , Wahya, Elvi Citraresmana, Dian Indira, T. M., & Lyra,  dan H. M. (2019). Upaya Pemertahanan Bahasa-Budaya Sunda Di Tengah Pengaruh Globalisasi. Pengabdian Kepada Masyarakat UNPAD, 2(1), 150–156.

Suhardi, U. (2014). Tujuan Kehidupan Manusia: Tinjauan Filsafat Kebahagiaan Menurut Epikuros Dan Catur Purusartha. PASUPATI Jurnal Ilmiah Kajian Hindu Dan Humaniora, 5(6).

 

 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dinamika Zaman"

Post a Comment