Sunday, February 17, 2013

Cinta Kasih dan Kasih Sayang



Menumbuhkan Cinta Kasih Dan Kasih Sayang Untuk Mencapai Kehidupan Yang Harmonis

A.  Pendahuluan
Om Swastyastu, Om Avighnam astu, Om Anu badrah kratavo yantu wis watah.
Dalam kehidupan globalisasi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang terus  berkembang dengan pesatnya. Mampu melahirkan dampak yang positif dan juga dampak yang negatif yang akan berpengaruh pada pola pikir dan tatanan kehidupan manusia baik secara individu maupun dalam kehidupan sosial masyarakat. Dan ketika kita tidak mampu membuat filter dalam diri masing-masing maka, akan terjerumus dalam hal-hal yang negatif. Hal  ini tidak hanya dialami oleh bangsa  indonesia saja akan tetapi, dialami oleh seluruh bangsa-bangsa di dunia. Dalam kehidupan sekarang ini banyak terjadi, peperangan atas nama agama atau golongan tertentu, adanya tindakan diskriminasi, bencana alam serta adanya kejadian-kejadian lainnya yang selalu menghiasi media cetak dan media elektronik sekarang ini.
Kondisi ini tentunya sangat berbeda dengan zaman dahulu yang masih bersifat tradisional yang selalu mengutamakan nilai-nilai etika dan kebersamaan. Akan tetapi, seiring dengan perjalanan waktu yang terus berubah dan menurut ajaran Hindu zaman ini adalah zaman Kaliyuga yang selalu diidentikan dengan harta dan kekuasaan yang didapatkan dengan segala cara yang sering menyimpang dari ajaran dharma, sehingga hal yang nampak adalah seseorang yang mempunyai kecerdasan Intelegensi yang tinggi akan tetapi, kurangnya kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional dalam kehidupan manusia sekarang ini.
 Dari kenyataan inilah hal-hal yang menjadi tujuan kita mencapai keharmonisan dan kedamaian sangatlah sulit untuk diwujudkan karena kita tidak pernah menyadari bahwa semua didunia ini berasal dari Brahman dan akan kembali kepada Brahman. Dan kehidupan manusia ini harus disadari bahwa inilah sebuah kesempatan untuk memperbaiki diri, seperti yang dijelaskan dalam Sarasamuccaya 4 menyatakan bahwa :
Apan iking dadi wwang, utama juga ya, nimitaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasadanang subhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika

  Artinya : menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh sangat uttama, sebab demikian, ia dapat menolong dirinya dari keadaan sangsara(lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik, demikian keuntungan dapat menjelma menjadi manusia (Nyoman Kajeng, 1999 : 9).

Dari permasalahan inilah maka, pada dharma wacana  ini saya mengambil judul “Menumbuhkan Cinta Kasih Dan Kasih Sayang Untuk Mencapai Kehidupan Yang Harmonis”. Ada beberapa  hal yang akan saya sampaikan antara lain :
1.      Bagaimanakah konsep Hindu tentang Cinta kasih dan kasih sayang dalam hidup ini ?
2.      Bagainamakah implementasi cinta kasih dann kasih sayang dalam kehidupan untuk mencapai keharmonisan ?

B.       Konsep Hindu tentang Cinta kasih Dan kasih Sayang Dalam Kehidupan
            Kata cinta berarti perasaan pada kesenangan, kesetiaan, kepuasan terhadap suatu objek, sedangkan kasih berarti perasaan cinta yang tulus ihklas (Lascarya) terhadap suatu objek. Hal ini akan lebih menarik apabila seseorang baru mengenal baru sebatas cinta, yang akan mempengaruhi seseorang untuk melakukan segalanya hanya karena cinta,  lalu apa yang menjadi kebutuhan lebih tinggi dari cinta ? tentu jawabanya adalah kasih, yaitu suatu perasaan yang timbul  tanpa adanya rasa yang mengikat.
 Dalam bahasa Sansekerta cinta berasal dari akar kata Snih yang berarti yang patut dipelihara. Dalam hal ini Swami Vivekananda menyatakan bahwa “Cinta kasih adalah daya penggerak, karena cinta kasih selalu menempatkan dirinya sebagai pemberi bukan sebagai penerima dan dengan penuh kesadaran cinta dan kasih kepada Tuhan, maka kemahakuasaan Tuhan akan datang karena daya cinta kasih-Nya”. Dengan demikian cinta kasih adalah perasaan yang dengan penuh kesadaran tanpa keterikatan. Dan kasih sayang merupakan perasaan yang lahir dari cinta kasih yang diberikan tanpa keterikatan.
Cinta kasih dan kasih sayang ini timbul karena pada dasarnya ada 5 aspek kepribadian manusia yaitu 1) Intelek (Kecerdasan) untuk memilah dan memilih yang benar atau salah 2) fisik terkait dengan jasmani yang berhubungan dengan tindakan baik 3) emosi sesuatu hasrat yang harus dikendalikan untuk mencapai kebahagiaan 4) kejiwaan, kepribadian manusia untuk perduli kepada orang lain dan makhluk sekitar  5) Spiritual, dasar untuk menyadari kemahakuasaan Tuhan. Dari kelima aspek dasar inilah cinta kasih dan kasih sayang sudah mulai timbul.
Dengan menyadari  bahwa sifat dasar kita berasal dari sumber yang sama, yaitu Brahman dengan demikian jiwa-jiwa yang ada pada setiap makhluk adalah bagian dari Brahman, maka hendaklah kita selalu menerapkan sifat-sifat itu dalam kehidupan ini karena kita mempunyai hubungan langsung dengan unsur-unsur di alam semesta ini ; tanah, air, api, udara dan angkasa. Dalam ajaran Hindu mengenal adanya Tat Twam Asi hal ini mengandung pengertian aku adalah engkau dan engkau adalah aku. Mengandung makna bahwa menyakiti mereka sama dengan menyakiti diri kita sendiri dan menolong orang lain pada dasarnya menolong orang lain. Sehingga kita selalu berempati dengan keadaan orang lain.
 Dari kesadaran inilah akan mencapai kebahagiaan dan keharmonisan karena, mengetahui bahwa sesungguhnya diri kita, orang lain serta makhluk hidup lainnya adalah bersaudara (Vasudaiva Kutumbhakam).  Kita bersaudara dengan alam, sesama manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Oleh karena itu, dari semua inilah akan melahirkan cinnta kasih dan kasih sayang.

C.    Implementasi Cinta kasih Dan kasih Sayang Dalam kehidupan ini Untuk Mencapai keharmonisan
Setiap ajaran agama selalu menekankan tentang adanya cinta kasih dan tidak ada satu ajaran agama yang mengajarkan tentang kekerasan dan kebencian terhadap pemeluk agama lain. Dalam hal ini selalu mengutamakan agar selalu berpikir, berkata dan berbuat yang benar. Untuk  mendapatkan kebahagiaan baik secara jasmani maupun rohani.
Akan tetapi apa yang terjadi sekarang? Dengan melihat bangsa Indonesia sekarang ini, kita merasa sangat prihatin, yaitu tentang adanya kejadian-kejadian yang akhir ini menerpa bangsa ini yang meliputi segala aspek kehidupan. Sehingga dalam menjalani hidup ini selalu dihantui dengan keresahan, kegelisahan serta suasana yang tidak menentu.
Dari kenyataan ini apakah penyebanya ? semua ini penyebabnya adalah adanya keinginan (nafsu) yang tidak terbatas, kemarahan, serakah, kebingungan, kemabukan dan irihati yang selalu menyelimuti dalam diri kita. Hal ini seperti dijelaskan dalam Kakawin Ramayana 1 menyatakan bahwa :

Ragadi musuh mapara
Rihati ya tonggwanya tan madoh ringawak
Yeka tan hana  ri sira
Prawira wikihian sireng niti
Artinya :
Hawa hafsu dan sebagainya (sad ripu) musuh yang dekat didalam hati tempatnya tidak jauh dari kita, yang seperti itu tidak ada padanya, pemberani dan sangat mengetahui tentang ilmu pemerintahan (Tim Penyusun, 2007 : 53).

 Jadi, musuh inilah yang menjadi musuh utama manusia, hal ini tidak berada diluar diri kita  tetapi berada dalam diri kita masing-masing yang harus kita perangi untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri. Karena pada dasarnya jika diri kita sudah harmonis pada tataran individu maka, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ini akan mencapai kedamaian dan kebahagiaan.
Dengan demikian, keharmonisan ini yang menjadi tujuan kita bersama dapat dicapai jika dari masing-masing individu sudah menumbuhkembangkan sifat cinta kasih dan kasih sayang dalam kehidupan ini sehingga, akan mampu untuk melaksanakan tugas yang menjadi kewajiban bersama baik dharma agama maupun dharma negara.


D.    Kesimpulan
Dari uraian tersebut diatas, bahwa cinta kasih dan kasih sayang mempunyai makna yang universal, yaitu tidak hanya dilakukan kepada sesama manusia, tetapi kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Dengan demikian untuk menumbuhkan cinta kasih dan kasih sayang dimulai dari individu masing-masing dengan cara menaklukan nafsu, amarah, serakah, irihati, kebingungan dan kemabukan. Oleh karena itu marilah kita coba merenung sejenak, bertanya kepada diri sendiri, mengapa aku benci kepadanya, mengapa aku selalu dendam kepadanya, mengapa aku musuhi dia, kenapa aku dengki kepadanya, mengapa aku iri kepadanya, sambil merenung kita harus sadar bahwa diantara kita adalah saudara (vasudaiva kutumbhakam) dan diri kita dengan seluruh makhluk hidup lain adalah sama bahwa aku adalah engkau (Tat Twam Asi). Maka, Setiap timbul dalam pikiran kita benih-benih permusuhan selalu ingat yaitu Satya (kebenaran), Santy (kedamaian), Dharma (kebijakan), Ahimsa (tanpa kekerasan).
Untuk itulah marilah kita bersama-sama menumbuhkan cinta kasih dan kasih sayang pada diri kita masing-masing, karena saya yakin jika semua orang mempunyai perasaan cinta kasih dan kasih sayang kepada seluruh ciptaan Tuhan maka, bangsa dan seluruh dunia ini akan terasa indah dan damai. Oleh karena itu, marilah kita mencontoh dari ilmu pohon yang selalu memberikan keteduhan dan kenyamanan kepada semua orang tanpa membeda-bedakan suku, asal, pangkat atau golongan, tua, muda, kaya atau miskin.
Demikianlah dharma wacana yang dapat saya sampaikan mudah-mudahan dapat menjadi wacana kita bersama dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan dinamika ini.
Om Santi, Santi, Santi;

      Jakarta,    Juli 2012


Untung Suhardi

No comments:

Post a Comment