Seni dalam Perspektif Sosiologis

DINAMIKA SENI DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS
Oleh:
Untung Suhardi 


Sumber Sosiologis Seni dalam Membentuk Kepribadian Estetis
Seni dalam teori sosiologi bahasannya terfokus pada seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. seni ini menyatu dalam kehidupan masyarakat yang terdiri dari seni individual dan kolektif. Seni kolektif mengacu pada kebersamaan masyarakat dalam mengerjakan, dan menciptakan sebuah karya seni. Seni kolektif lebih terikat pada nilai dan norma-norma masyarakat. Berbeda dengan seni yang berifat individu yakni lebih bebas mengekspresikan diri di lingkungan masyarakat (Sudira, 2010:37). Seni yang tumbuh dan berkembang selalu mengikuti nilai dan norma yang berlaku di masyarakat tersebut. Seni juga tidak bisa terlepas dari corak dan kebiasaan masyarakat di mana seni itu tumbuh dan berkembang. Walaupun ada pengaruh budaya luar masuk, maka akan terjadi akulturasi seni pada masyarakat yang menerima seni dari luar tersebut, terlebih lagi adalah seni keagamaan.  

 Seni keagamaan Hindu memberi pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat, demikian juga sebaliknya masyarakat sebagai pengguna seni juga memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan seni keagamaan. Masyarakat adalah pendukung seni sedangkan seni sangat bermanfaat bagi pembentukan kepribadian manusia sehingga tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang memiliki jiwa yang indah dan penuh bijaksana. Seni bagi masyarakat Hindu adalah tidak dapat dilepaskan dari seni untuk menunjukkan rasa bhakti kepada Tuhan, karena semua seni bagi masyarakat Hindu adalah sebagai media untuk memuja para dewa dan sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Beliau. Bagi masyarakat Hindu, hampir seluruh seni memiliki nilai religious, sehingga masyarakat Hindu sangat menghormati seni. Oleh karena itu, masyarakat sebagai pelaku seni, baik seni tari, seni suara, seni rupa, seni karawitan, dan sebagainya menganggap diri mereka sebagai bhakta sehingga seni yang mereka perankan dianggap sebagai persembahan untuk menunjukkan rasa pengabdian dan bhakti. Pelaku seni keagamaan akan merasa puas dan bahagia apabila dilibatkan dan sudah dapat memerankan seni keagamaan tersebut. 
Seni atau kesenian adalah suatu ilmu yang melakukan penyelidikan di lapangan dengan membahas hubungan-hubugan antara gejala-gejala masyarakat dengan seni. Albrecht melakukan hubungan antara nilai-nilai yang diekspresikan melalui karya seni dalam masyarakat. Sosiologi dapat membantu menjelaskan hubungan kausal antara nilai seni, karya seni, dan publik seni dengan masyarakat (Sudira, 2010:40). Seni keagamaan yang laksanakan selama ini oleh orang-orang Hindu di setiap upacara agama merupakan ekspresi dari nilai-nilai ajaran Hindu. Apapun yang dilakukan apakah seni tari, seni suara, seni rupa dan seni karawitan adalah untuk mengaplikasikan nilai-nilai ajaran Hindu ke dalam kehidupan mereka sehari-hari melalui seni keagamaan. Seni keagamaan terutama seni keagamaan Hindu sudah sangat jelas dapat membentuk kepribadian estetis karena selain digunakan sebagai media untuk menyampaikan rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi, seni keagamaan juga dijadikan media untuk menyebarkan ajaran Hindu kepada masyarakat. Oleh karena itu pula, sebagai sumber sosiologi seni, seni keagamaan Hindu sangat tepat sekali dijadikan media untuk membentuk kepribadian estetis umat manusia, karena seni tumbuh dan berkembang di masyarakat, dan masyarakat sebagai pengguna menjiwai nilai-nilai yang tumbuh pada seni tersebut. 

  Seni keagamaan Hindu yang tumbuh dan berkembang sampai saat ini merupakan warisan yang sudah ada sejak jaman kerajaan, dimana kerajaan Hindu saat itu telah mendapat pengaruh budaya dari India. Adapun warisan-warisan kerajaan-kerajaan Hindu tersebut adalah seni rupa, seni suara, seni karawitan dan seni tari. Apabila seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dapat berguna dalam membentuk kepribadian estetis pada masyarakat, dan masyarakat dapat mengambil nilai-nilai luhur dari seni tersebut sehingga tumbuh menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang estetis, itu berasti bahwa seni keagamaan dapat disebut sebagai sumber sosiologi seni.  


Dinamika Seni Keagamaan Berbasis Kearifan Lokal dalam Membentuk Kepribadian Estetis
Penyebaran agama Hindu dimulai dari Jawa Barat yaitu di kerajaan Salakanagara selanjutnya ke Kutai, dan akhirnya sampai di Jawa Timur. Kedatangan si Agastya ke Indonesia dalam rangka menyebarkan agama Hindu sekaligus membawa budaya India dan sekaligus ajaran Hindu ke Indonesia. Kerajaan-kerajaan yang berdiri pada saat itu juga akhirnya mendapat pengaruh dari budaya India dan pengaruh agama Hindu.
Pengaruh budaya India yang beragama Hindu juga terjadi pada seni yaitu seni keagamaan, dimana seni keagamaan di Indonesia adalah seni yang memiliki corak agama Hindu. seni keagamaan yang mendapat pengaruh budaya India atau pengaruh agama Hindu adalah antara lain: seni suara, seni rupa, seni tari, dan seni karawitan. Namun budaya India yang datang ke Indonesia tidak diambil begitu saja seluruhnya oleh masyarakat Indonesia, tetap diseleksi agar sesuai dengan budaya Indonesia, sehingga tidak jarang terjadi akulturasi kebudayaan. 

 Penerimaan kebudayaan Hindu yang berasal dari India oleh masyarakat pada saat itu dan disesuaikan dengan kebudayaan setempat berlangsung sampai saat ini, di mana agama Hindu yang berkembang di Indonesia tidak sepenuhnya menerima budaya India, akan tetapi tetap juga mempertahankan budaya daerah setempat. Agama Hindu bukanlah agama yang membunuh budaya daerah setempat di mana agama Hindu disebarkan, akan tetapi budaya yang terdapat di daerah setempat tetap dipelihara dan dijiwai oleh agama Hindu.
Oleh karena agama Hindu tetap melestarikan budaya daerah di manapun agama Hindu itu berkembang, maka seni keagamaan yang berkembang di Indonesia juga tetap melestarikan budaya daerah setempat, contohnya: (1) seni keagamaan di Jawa tetap bercorak budaya Jawa, seperti Gending dan macopat dengan tetap menggunakan bahasa Jawa; (2) seni keagamaan di Bali seperti: seni tari tetap bercirikan seni budaya Bali dilihat dari sisi pakaian; seni suara, seperti: macepat, dan kidung tetap menggunakan Bahasa Bali; dan kekawin menggunakan bahasa Jawa Kuno. Begitupula dengan agama Hindu yang berkembang di daerah lain seperti di Kalimantan Timur juga tetap mempertahankan budaya daerah setempat. Dalam agama Hindu dikenal istilah desa, kala, patra, yaitu segala bentuk kegiatan agama Hindu disesuaikan dengan keadaan desa atau daerah setempat sehingga masyarakat dapat melaksanakan ajaran Hindu dengan mudah. 

Penutup 
Seni keagamaan yang tetap melestarikan budaya lokal justru lebih mampu membentuk kepribadian estetis masyarakat karena masyakarat lebih akrab dengan budayanya daripada dengan budaya orang lain. Nilai-nilai yang telah lama berkembang di daerah setempat selanjutnya dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu maka akan menambah kesempurnaan nilai-nilai budaya setempat sehingga masyarakat semakin yakin dengan nilai-nilai kebenaran budaya setempat. Keyakinan masyarakat terhadap tingginya nilai-nilai kebenaran budaya yang dianut yaitu dalam bentuk seni keagamaan maka masyarakat akan benar-benar mengamalkan nilai-nilai dalam seni keagamaan tersebut. Oleh karena itu maka seni keagamaan dapat membentuk kepribadian estetis masyarakat setempat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Seni dalam Perspektif Sosiologis"

Post a Comment